Social Icons

.

Jumat, 10 Oktober 2014

KANJENG TAK MILIKI SIFAT KUN FA YAKUN


FAJARONLINE — Mewabahnya “virus” Dimas Kanjeng Taat Pribadi di Sulsel mengundang keprihatinan pelbagai pihak. Termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulsel.

Ketua Mejelis Ulama (MUI) Sulsel, AGH Sanusi Baco menegaskan, adanya kepercayaan bahwa Kanjeng dianugerahi sifat yakun, kun fa yakun (Jadilah! Maka jadilah) dan bisa menggandakan uang dari tangannya, dianggap sebagai sebuah kemusyrikan. Menurutnya, sifat itu hanya melekat pada Allah SWT.

“Tidak ada satu pun manusia yang diturunkan kemampuan kun fa yakun. Sifat itu hanya dimiliki Allah. Jadi kalau ada mempercayai bahwa kun fa yakun itu berlaku pada manusia, jelas itu sebuah kemusyrikan,” tegasnya kepada FAJAR, Kamis, 9 Oktober.

Musyrik menurut syariat Islam, kata kiai kharismatik ini, adalah perbuatan menyekutukan Allah dengan apa pun. Dalam Islam, musyrik adalah dosa yang tak bisa diampuni kecuali dengan pertobatan dan meninggalkan kemusyrikan sejauh-jauhnya.

Sanusi Baco mengaku, sangat miris dengan banyaknya masyarakat Sulsel yang terjerat Kanjeng. Menurutnya, setiap usaha yang di dalamnya terhadap unsur penipuan sangat bertentangan ajaran Islam.

Perilaku ini pun dianggap sudah meresahkan masyarakat. Banyaknya orang yang tertipu harus diakhiri. Sanusi berharap, peran pihak berwajib bisa menjadi ujung tombak dalam mengusutnya.

“Harus dicari dan diusut pelaku utamanya. Ini agar keresahan atau orang yang tertipu tidak bertambah,” harapnya.

Sementara itu, jaringan Kanjeng di Sulsel makin terang benderang. Najmiah Muin yang disebut-sebut sebagai salah seorang santri semakin jelas.

Dari sumber FAJAR yang merupakan orang terdekat Najmiah, ternyata kediaman di Jl Sunu Kompleks Perumahan Unhas Blok K – 10 Makassar juga menjadi tempat istighosah setiap malam Jumat. Sumber itu pula bahkan menyebutkan bahwa di rumah Najmiah telah disediakan ruang khusus pada lantai dua sebagai tempat gaib Kanjeng.

“Ruang itu dibuat khusus. Tidak sembarang orang bisa masuk ke dalam. Di sanalah Bunda (Najmiah, red) berkomunikasi secara gaib dengan Kanjeng,” kata informan FAJAR membeberkan.

Dari cerita informan tersebut terkuak banyak fakta menarik. Orang ini juga sebenarnya hampir menjadi santri. Orang itu bahkan sudah pernah berkunjung ke Padepokan Kanjeng di Probolinggo, Jawa Timur.

Dari ceritanya, Padepokan Kanjeng tersebut terpisah dari kampung di sekitarnya. Kanjeng membentuk kampung sendiri yang diberi nama “Kampung Kanjeng Dimas”.

Dalam kampung tersebut terdapat lapangan tempat istighosah yang luasnya dua kali lipat lapangan Karebosi Makassar. Sementara, rumah Kanjeng mewah. Orang itu bahkan memperlihatkan beberapa dokumentasi ketika berkunjung ke sana. Termasuk salah satu foto, saat orang itu berada di dalam gudang uang Kanjeng.

Dalam dokumentasi itu tampak, sebuah koper besar penuh uang. Semua mata uang ada. Rupiah, dolar, dan beberapa mata uang negara lainnya.

Ia bahkan mengaku diberikan seikat dolar. Orang itu ambil dan menukarnya di Sulsel. Semua asli dan diterima di tempat penukaran uang (money changer).

“Untungnya, saya tidak yakin dengan apa yang saya lihat. Saya tahu, uang yang diberikan itu hanya pemantik agar saya bergabung menjadi santri,” ungkapnya.

Bentuk ketidakyakinan dirinya makin mantap saat mencoba mencari tahu di masyarakat di luar kampung Kanjeng. Dari sana, ia mendapat informasi jika masyarakat sekitar saja tidak percaya.

Fakta yang menguatkan, masih banyak masyarakat di sekitar kampung Kanjeng miskin. Itu artinya, Kanjeng tidak memperhatikan warga, sementara ia mengaku jika yang ia hasilkan untuk kemaslahatan umat.

Masih terkait Najmiah. Orang itu membeberkan, jika Najmiah sangat khusus bagi Kanjeng. Betapa tidak, hanya Najmiah santri dari Sulsel yang bisa mengakses ruang khusus Kanjeng.

Soal uang kemaslahatan, orang itu mengakui jika Najmiah memang sudah pernah mendapatkannya. Itu terjadi sebelum Ramadan lalu. Waktu itu Najmiah memang sempat membagi-bagikan beras dan uang kepada masyarakat di rumahnya.

“Nilainya tidak begitu besar. Hanya Rp1 miliar. Tidak sebanding dengan uang yang telah diberikan kepada Kanjeng,” terang orang itu.

Peran Najmiah memang sangat besar. Mulai dari perbaikan jalanan serta lapangan di Padepokan Kanjeng, semua dibiayai oleh Najmiah. Lapangan tempat mendarat helikopter di padepokan tersebut, bahkan juga dibiayai Najmiah.

Kunjungan Najmiah ke Probolinggo memang untuk ketemu Kanjeng. Orang kepercayaan Najmiah membenarkan itu. Pengikut Kanjeng di Sulsel, khususnya di Makassar memang sudah sangat banyak.

Salah seorang anggota kepolisian yang pernah berkunjung ke Probolinggo untuk bertemu langsung dengan Kanjeng, Andi Parenrengi, mengatakan, “Apa yang dilihat di you tube, itu juga saya lihat di sana.” Salah seorang imam masjid di Makassar, Ustaz Busman juga disebut-sebut menjadi santri. Namun ketika dikonfirmasi, Busman mengaku hanya sering menjadi pembawa zikir di kediaman Najmiah.

“Saya tidak pernah menyetor uang. Saya hanya menerima uang santunan karena memimpin zikir,” begitu pengakuannya kepada FAJAR.

Terpisah, Wali Kota Makassar, Moh. Ramdhan Pomanto mengaku baru mengetahui kabar jika perihal Kanjeng sudah mewabah di Sulsel, khususnya Makassar. Ia mengaku kaget ketika ada pemberitaan di media terkait praktik penggandaan uang.

Danny, sapaan akrab orang nomor satu di Pemkot Makassar itu, tak ingin gegabah dalam mengambil tindakan. Dia masih mendalami modus penggandaan uang tersebut. “Kami masih memantau perkembangannya. Yang jelas ketika sudah mengganggu ketenteraman dan sudah menyangkut hukum, pasti kami ambil tindakan. Untuk sekarang saya masih koordinasikan dengan bidang kesejahteraan rakyat untuk pelajari modusnya dulu,” tutur pria berkacamata itu.

Danny juga menegaskan bahwa masyarakat harusnya berpikir secara logis tidaknya ada itu penggandaan uang. “Penipuan itu. Makanya jangan selalu berpikir dapat uang secara instan. Kerja baru dapat uang,” jelasnya. (tim/ars-bas)

2 komentar:

  1. Ayo ini udah bulan juni 2015 apa udah ada hasilnya,hadeuh pada bloon sih ampunn dah masih percaya aja sm yg kyk bgtuan.

    Udah lah lapor polisi aj udah jelas ini nipu,kok pada bengong aj ayo yg jd korban jgn diem aj bergerak napa.

    Polisi jg udah tau ini ada indikasi penipu kok malah diem aj,si kanjing soalnya mantan anggota sih masih bnyk tmnnya kyknya yg dikepolisian,masak udah jelas2 didepan mata masih blm keurus,ganja didalem kue brownis aj ketauan langsung ditangkep,lha ini korban udah ad,jelas bisa meresahkan masyarakat malah susah bgt ngebongkarnya.

    BalasHapus
  2. Yang mau jadi muridnya dinas kanjeng pastilah goblok wkwkak

    BalasHapus